KALIMANTANVIEW.COM, TANAH BUMBU – Aksi penyelamatan delapan awak kapal Tugboat (TB) Equator 10 oleh KM Kelimutu di Laut Jawa, Sabtu (17/1) malam, menjadi ujian nyata bagi manajemen operasional PT PELNI (Persero) Cabang Batulicin. Meski harus mengutamakan penyelamatan nyawa, PELNI bergerak taktis guna meminimalkan dampak keterlambatan bagi rantai logistik dan mobilitas penumpang.
Peristiwa evakuasi yang berlangsung selama hampir tiga jam tersebut secara otomatis menggeser jadwal sandar kapal di Pelabuhan Batulicin, yang merupakan salah satu titik vital transportasi laut di Kalimantan Selatan.
Manajemen Keterlambatan yang Terukur Kepala Cabang PELNI Batulicin, Anita Lestari, menjelaskan bahwa evakuasi tersebut menyebabkan kedatangan KM Kelimutu tertunda dari jadwal semula pukul 10.00 WITA menjadi pukul 10.50 WITA. Efek domino juga dirasakan pada jadwal keberangkatan kapal yang harus bergeser satu jam menjadi pukul 12.00 WITA pada Minggu (18/1).
“Secara operasional, kami harus bergerak cepat mengelola delay ini agar tidak berdampak luas pada pelayanan berikutnya. Penjelasan transparan langsung kami sampaikan kepada para penumpang di pelabuhan,” ujar Anita.
Langkah mitigasi ini krusial mengingat KM Kelimutu merupakan kapal dengan kapasitas besar yakni 1.000 pax, yang melayani rute panjang melintasi Jakarta, Surabaya, hingga Pontianak. Setiap menit keterlambatan memiliki konsekuensi pada biaya operasional dan jadwal konektivitas logistik di pelabuhan-pelabuhan selanjutnya.
Meski menghadapi tantangan operasional, PT PELNI menegaskan bahwa keselamatan jiwa manusia di laut tetap menjadi mandat utama yang berada di atas target efisiensi jadwal. Keputusan Nakhoda Capt. Meiardi Baruna Negara untuk melakukan olah gerak evakuasi dipandang sebagai bentuk profesionalisme yang bertanggung jawab.
“Kesiapsiagaan armada kami melalui pelatihan rutin memungkinkan proses evakuasi berjalan efektif. Alhamdulillah, meskipun ada pergeseran waktu satu jam, para penumpang sangat kooperatif dan memahami situasi darurat tersebut,” tambah Anita.
Sebagai BUMN yang mengoperasikan 26 kapal penumpang dan puluhan kapal perintis, PELNI memiliki peran ganda: sebagai penggerak ekonomi di wilayah 3TP (Terpencil, Terluar, Tertinggal, dan Perbatasan) sekaligus sebagai penjaga keselamatan di perairan Nusantara.
Hingga berita ini diturunkan, operasional KM Kelimutu telah kembali ke jalur normal setelah menurunkan delapan awak TB Equator 10 di Batulicin. Manajemen memastikan bahwa penanganan logistik dan arus penumpang di pelabuhan tetap berjalan kondusif berkat komunikasi krisis yang efektif antara awak kapal, pihak kantor cabang, dan otoritas KSOP setempat.









